…adalah judul film yang menang di ajang Think Act Change, a Documentary Film Competition 2007, kerjaan bareng antara The Body Shop Indonesia ama Dewan Kesenian Jakarta. setelah hampir 10 bulan adek2 SMU itu bergulat dalam workshop dasar-dasar film dokumenter, pendalaman isu-isu HIV/AIDS- global warming - kekerasan domestik, penulisan ide cerita, produksi film, dan screening buat voting film favorit...awarding night akhirnya dilakukan kamis malam kemaren, di blitz megaplex.
SERUUUUU ABISSS….!
gw datang atas undangan dari mantan boss paling funky n asik sedunia [mbak ukke…I really miss working with u…!]. tapi kalopun ga diundang pun dari awal gw dah niat nongolin muka di antara temen2 lama. hehe…mentang2 mantan :p. nope, not only because I was one of TBS employee –apalagi bertaun2 ngerjain campaign2nya macem gini-, but the fact that deep down in my heart n running there in my blood, I support these kind of campaigns. always need to be a part of it. next valentine mau turun lagi ke bundaran HI nyebarin info domestic violence? just call me! heheh…J
hmmm...baru melangkah masuk lobby aja, udah terasa banget TBS –nya. apalagi kalo bukan karena panel gede-gede berisi info seputar isu lingkungan, HIV/AIDS n domestic violence yang jadi tema kompetisi film ini- dan emang udah bertaun-taun jadi tema utama kampanye2 TBS di seluruh dunia. di pintu masuk gw ketemu pak wimar n his genk yang hadir sebagai undangan. pakai kemeja orange nge-jreng, senada ama kaos orange gw n outfit sebagian besar manusia yang membludak di blitz malem itu. salam-salam. ‘pa kabar pak….liat panel2 kampanye ini, jadi inget waktu ngerjain project Anita Roddick setaun lalu yah..?’ heheh..sekonyong-konyong jiwa gw yg sebenarnya balik lagi masuk ke badan :p. the feeling’s soooo….good!
eh, balik ke ‘sarung petarung’…film karya Jason Iskandar n Adhiartha Kusuma dari SMU Kolese Kanisius ini berharap bisa membuka mata kita utk lebih ga malu2 membicarakan kondom. digambarin di situ, gimana remaja saling mempertanyakan kegunaannya. saat si sutradara menyodorkan sekotak kondom ke bbrp ‘korban’ lalu bertanya : “lu tau ga ini apaan?” . jawaban anak2 SMU itu spontan bngt, lugu, polos. memberikan fakta bahwa ternyata pendidikan seks sangat dibutuhkan untuk menghindarkan remaja dari efek negatifnya, misal penularan HIV/AIDS. ga tanggung2, film ini ngeborong 3 award sekaligus : utk tema HIV/AIDS kategori SMU, film favorit pemilih [via website n screening session], n film terbaik. *plok plok plok…!*. n ga TBS juga kalo partner campaign-nya ga melawan mainstream. pas pengumuman kategori film terbaik tema HIV/AIDS, mbak Baby Jim Aditya ditemenin Udjo di podium sempet memperagakan cara ngebuka kondom…”ingat setiap 6 detik, satu orang di dunia ini tertular HIV”. sama persis deh seperti yang biasa mbake bicarakan di depan staff baru TBS yang lagi duduk manis di induction training…di sana jangan berani2 jualan perfume dulu kalo belom paham isu2 dalam campaign yang diangkatnya.
film lain yang ga menang ataupun ga masuk nominasi sekalipun, udah pasti memberikan kepuasan tersendiri bagi para kreatornya. seperti yang diucapkan mas riri riza di awal pengumuman film terbaik, bahwa tugas seorang warga negara yang baik adalah membuka mulutnya. mempertanyakan ketidakadilan, menyatakan sikap, dan menyebarluaskan kebenaran perlu diketahui publik. dan melalui film itu mereka udah menyelami berbagai isu sosial n lingkungan dengan proses kreatif, menghasilkan sebuah pernyataan sikap dan suara melalui karya mereka.
plok plok plok…bravo to The Body Shop! semoga terus bergulir di tahun2 mendatang. wishing that more companies follow that ‘not so easy’ road. ‘cause like AR said before, ‘you are not remembered for what you do in business, but only for what you do in civil society’.
congrats buat para peserta ‘n pemenang. you’ve made a change.