
“bang…apa lagi itu bang?”, tanya kang komeng takjub begitu terlihat hamparan air luas nan jernih dikelilingi lembah hijau dari jendela mobil pak andreas, ketika kami hampir sampai tongging . “itu masih danau toba laaahh…!”. “hah?!??!? toba lagi?” ...ck ck ck...
hihihi…emang sih, buat seseorang seperti komeng, gw, dan sebagian besar temen-temen seperjalanan yang belum pernah menginjakkan kaki di samosir, ga bisa dibayangkan luasnya danau toba walopun sejak SD udah akrab banget dengan gambarnya di peta buta n hafal betul kalo itu danau terluas di asia tenggara. selama ini medan bagi gw ga pernah menarik karena beberapa kali ke sana gak pernah lepas dari urusan kerja, sehingga hanya kenangan pada macet n asap becak motor yang terbayang. tapi minggu lalu, selama tiga hari di sana, sejauh mata memandang, dari sudut mana aja kita selalu disuguhi pemandangan indah menyejukkan ala danau toba. entah sedang di pucuk bukit, di depan kamar hotel, di dalam mobil, sampai di lembah. padahal, perasaan roda mobil udah berputar berjuta-juta kali melalui jalan berkelok-kelok menjauhi tuh danau. eh, ketemunya toba lagi...toba lagi..:-)
berbekal tiket promo jakarta-medan pp dari air asia (Rp 0,- LAGI!!), total 15 orang berangkat ke medan setelah berkali-kali bongkar pasang anggota tim. suatu hal yang sangat biasa terjadi :p. 21.00 WIB pesawat take off, dan kami melalui 2 jam penuh keingintahuan. terutama komeng yang akhirnya merasakan indahnya goncangan turbulence hehehe. pesawat mendarat (tidak terlalu) mulus, dan kami buru-buru kejar waktu belanja perbekalan ke sun plaza. pertama kalinya merasakan perjalanan darat di medan dengan mobil sewaan dari pak andreas n tim...uhuuuuyyy...berasa kayak lagi ikutan rally. ciiittt...injak remmm! wuuuzzzz...! hmmm khas banget sopir medan booo! mual. hiks. tapi mau pindah mobil lain pun ketika gw tanya ke anak-anak lain, jawabnya ”sama ajaaa...parah..”. yah, pasrah.
mampir istirahat sebentar di rumah Kak Netty, sepupu Linda. mengistirahatkan perut n kepala pening, mandi-mandi, meluruskan punggung, dan diskusi-diskusi dengan si Abang tentang rute terbaik yang nantinya akan dilewati. kalau lewat sini gimana, kalau lewat sana gimana, di sini ada pemandangan apa, kalau ke sana bisa liat apa...ditemani temaram lampu minyak hihihi. medan lagi sering mati lampu rupanya. jam 2 dini hari, 3 mobil yang masing-masing berisi 5 orang, seorang sopir yahud, ransel-ransel, dan bekal perjalanan cabut ke arah hutagunjang. hanya sebentar aja suara-suara berisik bersahut-sahutan lewat HT. setelah itu...zzzzzzzzz...
pagi-pagi sebelum matahari menyorotkan sinarnya, mobil udah parkir di sebuah warung di tepi danau toba. jaket tebal, kaos kaki, dan segelas bandrek panas menemani kami memandang hamparan biru danau di belakang warung. bekal paling berharga – kamera- segera beraksi. ciieee...:p. masih butuh perjalanan panjang sekitar 3 jam untuk sampai di perbukitan hutaginjang, melewati makam-makam khas batak yang besar-besar seperti tugu, gereja-gereja tua, dan rumah adat batak. sempet nyasar dikit karena petunjuk jalan yang agak-agak menggiurkan n kami udah terkena euphoria toba! ga sabarrrr....
HUTAGINJANG-1550 mdpl-curah hujan 1234 mm/thn. yup! inilah salahsatu dataran tinggi dengan pemandangan alam paling ciamik yang pernah gw lihat. kalau leher diputar dari arah kiri ke kanan, hamparan air biru toba berpendar-pendar tertimpa sinar mentari pagi. langit biru cerah pagi itu disisipi beberapa gumpal awan putih bersih, serasa sedang menaungi danau seluas 1.700-an km persegi itu. di sekelilingnya, perbukitan hijau lebat berdiri tegak seakan melindungi riak air toba dari sentuhan penjamah.
puas memandang danau toba dari ketinggian hutaginjang, langkah segera ditujukan ke parapat karena perut udah keroncongan, padahal harus mengejar waktu penyeberangan ke samosir. gak susah ternyata nyari rumah makan halal karena di parapat cukup banyak warung padang yang bersih n makanannya enak. di sini, apapun makanannya....minumnya JUS TERONG BELANDA! jam 14.30, kapal feri mulai berlayar dari pelabuhan ajibata parapat menuju tomok di samosir. hmmm..ga terlalu bersih ya kondisi kapalnya, biasa aja. tapi kehadiran 3 bocah samosir bersuara emas yang bernyanyi sepanjang perjalanan membuat 2 jam di kapal feri gak berasa sama sekali. boooo...sumpah deh suara mereka, asli kerennn banget! saut sidabutar, salah satu dari mereka yg gw ajak ngobrol, cerita bahwa ’team’ mereka ada 10 orang yang emang hobi banget nyanyi sejak kecil. hampir tiap sore mereka latihan bareng di kapal fery n menghibur para penumpang dengan komposisi 3-3. maksudnya setiap team terdiri dari 3 orang, 3 suara. kebayang ga sih kalo kesepuluhnya ngumpul semua...trus mereka nyanyi bareng. ada suara 1, suara 2, suara 3...ampe suara 10. keren! hehehe. kelar 11 lagu batak, sampai jugalah kami di samosir. ”sampai ketemu lagi kak!” ucap si saut setelah menorehkan sedikit tulisannya di buku journal gw ...”ya..sukses yah kalian! the next indonesian idol,” kata gw. hmm kalo suatu hari nanti dia jadi penyanyi beken, gw dah punya tandatangannya duluan hihihi...:p
matahari udah mulai meredup ketika kami sampai di makam raja sidabutar di tomok. makam batu itu menjadi salahsatu keunikan samosir, dengan patung-patung batu dan meja kursi batu di area yang sama. beberapa rumah adat termasuk sebuah yang hampir ambruk menjadi obyek foto di sini, walopun dari nada suara seorang bapak sepertinya kurang senang rumahnya menjadi background foto-foto...ya iyalah, kita mah ribuuuuttt bener! satu hal yang gw inget banget dari cerita di tomok adalah tentang filosofi CICAK. cicak yang jago nempel di dinding mempunyai arti bahwa orang batak di manapun dia berada, harus bisa ’nempel’.hihihi...linda...lengket ga lin? :p . gak perlu nanya dua kali ketika linda nawarin untuk langsung check-in ke hotel carolina. tampaknya semua udah lelah n ngantuk...
ngantuk??? kata sapa...? begitu masuk kamar masing-masing yang semuanya menghadap langsung ke danau, ga lama pada keluar lagi dah pake baju-baju minim siap-siap nyebuuurrr! tentu aja gw n keke berasa menemukan laut luas di sana hahahaha...acara cebur-ceburan tambah asik setelah risna n ajer gabung nyemplung, trus acara kejar2an berusaha nyemplungin yudi n G ga berhasil. huh! airnya seger, adem, n bening. ga berasa lengket seperti air laut (ya iyalah!!). sayang malam segera datang n kuping gw keburu nyut-nyutan akibat keasikan nyelem2 kali. tapi...setelah mandi, makan malem di resto carolina n maen beberapa set uno, kembali lagi gw leyeh-leyeh di tepi danau toba ditemenin sony, komeng, ajer, vero, keke, G, n bulan purnama. hmmm...mirip di tepi pantai dengan angin malam sepoi-sepoi minus lengket.
minggu pagi yang cerah, tinggal sedikit waktu menikmati danau toba dari dekat. photosession sepuas-puasnya dengan seragam baru : merah meriah ala travel warning. wuiiihh..seru bener! maaf, yang belom punya, pesen dulu ke mas iwan :p. pagi itu kami berangkat meninggalkan carolina menuju tele, yang kabarnya susah dilalui karena jalan yang berliku n berkelok tajam, licin, n samping-sampingnya jurang. tapi, kenapa kami ngebet banget lewat sana, karena kabarnya lagi...pemandangannya yahud bener! sepanjang jalan sebelum memasuki tele, gw terkagum-kagum ama bangunan-bangunan tradisional, rumah adat, gereja, atau makam – termasuk makam seharga 1 M- yang berceceran di kiri kanan jalan. bagi gw itu indah sekali. di simanindo, mampir dulu sebentar ke kampung adat yang berisi rumah-rumah batak, boneka sigale-gale, dan makam tradisional. rencana untuk menontot tarian sigale-gale sepertinya harus direlakan kali ini, karena harus kejar waktu nyampe tele sebelum sore.
ternyata, pulau samosir ama daratan sumatera hanya dihubungkan oleh sebuah jembatan kuning kecil pendek. masuk tele, jalan mulai terlihat agak-agak mengerikan. ngerti gw sekarang kenapa susah cari sopir n rental mobil di medan yang mau nganter lewat tele. tikungannya booo! tajem setajem piso. saking tajemnya, kadang tuh toba bisa ada di sebelah kiri kita, tiba-tiba ada di sebelah kanan. ga lama kemudian, pindah lagi ke kiri. tapi, view-nya emang ciamik! ga kelar-kelar deh kami berdecak kagum. cantik b a n g e t! apalagi ketika mobil diparkir sejenak di menara pandang, kami naik beberapa tingka ke menara..pemandangannya tetep keren hingga nun jauh di tenagh danau sana...
diputuskan malam terakhir untuk menginap di tongging aja, sisi lain dari danau toba. pertimbangannya, brastagi ga ada apa-apa alias gitu-gitu ajah dan di tongging lebih deket sipiso-piso, jadi ga perlu balik arah lagi besok paginya. ternyata, perfect choice. selain hotelnya masih terbilang murah dengan kamar yang nyaman (walau air-nya coklat sih...gapapa lah), terletak di lembah yang sejuk, di depan hotel bertebaran warung ikan bakar yang ikannya bisa ngambil langsung dari karamba di tepi danau toba. wah...asik bener! fresh fish tonight!
pagi check out dari tongging langsung menuju air terjun sipiso-piso yang sempet dipikir tempat kerajinan pisau tradisional oleh si akang komeng, hihihi. menuruni anak tangga dari semen yang jumlahnya 800-an kayaknya enggak deh. so kami hanya turun sampai shelter dan foto-fotoin sipiso-piso dari jauh. cukup puas, apalagi suguhan pelangi bertubi-tubi di tebing air terjun. indahnyaa...! siang itu, balik ke medan via brastagi (yang emang gak menarik) dan...breesss..mulai turun hujan. syukurlah hujan baru deras ketika trip kami berakhir..:-). kalau ada tawaran ke samosir lagi...kayaknya boleh tuh! kata orang, sebulan di samosir juga kurang..hehehe...